Tahun Ini Tanam 22 Ribu Bakau

  • BY DAVID
  • ON 23 MARET 2018
https://www.mempawahkab.go.id/public/uploads/images/posts/mPosts_5909446747_fajar_Berita.jpg

MEMPAWAH, HUMAS – Upaya konservasi wilayah pesisir Kabupaten Mempawah terus dilakukan. Hal itu menjadi komitmen dan program kerja Mempawah Mangrove Conservation (MMC) untuk menyelamatkan kawasan pantai dari ancaman abrasi.  “Alhamdulillah sejak 6 tahun terakhir aktivitas penghijauan wilayah pesisir dengan menanam pohon mangrove di Kabupaten Mempawah meningkat. Baik yang kami lakukan maupun pihak-pihak lainnya,” kata Ketua MMC Kabupaten Mempawah, Raja Fajar Azansyah, di Mempawah, Selasa (20/3). Fajar menilai maraknya kegiatan konservasi memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan wilayah pesisir. Beberapa lokasi kini telah menghijau asri. “Beberapa titik abrasi di pesisir pantai Kabupaten Mempawah seperti Desa Bakau Kecil,  Desa Pasir, Desa Penibung, Desa Mendalok, dan beberapa lokasi lain sudah mulai pulih dari kerusakan. Semua ini berkat kerja keras dan kesadaran masyarakat untuk menyelamatkan alam,” ujar Fajar menyebut. Meski begitu, Fajar meminta semua tidak berpuas diri. Upaya konservasi, menurut dia, tetap harus digiatkan. Masih terdapat sejumlah wilayah yang hingga kini tergerus abrasi. Kondisinya kian memprihatinkan.  Seperti pantai Desa Bakau Besar Laut,  Desa Sungai Batang, Tanjung Burung, dan beberapa titik lainnya. “Faktor utamanya karena lokasi ini berada di sebelah selatan Kabupaten Mempawah dan tidak ada hutan mangrove yang dapat menahan ombak,” kata Fajar menerangkan. Karena itu, Fajar mengaku MMC terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak dalam penanggulangan abrasi. Untuk Desa Bakau Besar Laut, misalnya, Fajar mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat untuk menggalakkan kegiatan koncervasi. “Sementara untuk wilayah Pantai Tanjung Burung Kelurahan Tanjung, kami belum melakukan koordinasi. Sebab lokasinya jauh dari permukiman masyarakat.” Khusus di wilayah Pantai Tanjung Burung, Fajar berharap keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten untuk membangun sistem pengamanan pantai berupa balok pemecah ombak. Tanpa pengamanan itu, menurut dia, akan sulit dilakukan konservasi. “Jika pemerintah telah membangun pengaman pantai, maka MMC bersama mangrove volunteers siap melakukan aksi penghijauan di lokasi itu. Karena upaya penghijauan akan sia-sia jika ombak dan sampah-sampah dari laut tidak dikendalikan,” ucapnya menerangkan. Terkait program MMC tahun 2018 ini, Fajar mengungkapkan pihaknya akan menanam 22 ribu pohon mangrove di Kabupaten Mempawah. Program itu sendiri merupakan buah kerja sama MMC dengan sejumlah komunitas, organisasi, dan perusahaan swasta di Kabupaten Mempawah. “Hingga Maret 2018 ini, sebanyak 7.000 mangrove sudah ditanam. Sisanya akan menyusul di beberapa lokasi seperti Pantai Desa Pasir, Bakau Kecil, dan Bakau Besar.” Secara terpisah, pelaksana tugas Lurah Tanjung, Hery Susanto, mengaku pihaknya telah mengajukan anggaran pengadaan kubus atau balok pemecah ombak. Dirinya berharap rencana konservasi Pantai Tanjung Burung dapat segera terealisasi. “Sudah kita ajukan anggarannya. Mudah-mudahan apa yang diharapkan bersama dapat terwujud,” ujarnya. (Rio)

Tags Terkait

Pemkab Mempawah